Dua petambak membeli pakan bermerek sama dengan kandungan protein sama, lalu panen dengan hasil yang jauh berbeda. Kejadian seperti ini membingungkan bila pakan dianggap sebagai penentu tunggal. Padahal kadar protein yang sama akan memberi hasil berbeda pada sistem tambak yang berbeda, dan yang membedakan bukan pakannya melainkan kemampuan tambak mencerna konsekuensi dari pakan itu.

Logikanya begini. Protein yang tidak terserap udang keluar sebagai amonia. Amonia harus diurai oleh bakteri di kolam, dan proses penguraian itu memakai oksigen. Jadi setiap kenaikan kadar protein menambah beban pada dua hal sekaligus, yaitu kapasitas aerasi dan kemampuan air menampung limbah nitrogen. Tambak yang kapasitas aerasinya pas-pasan akan merasakan efek negatif dari pakan berprotein tinggi sebelum merasakan manfaatnya.
Karena itu pertanyaan pertama bukan merek apa yang proteinnya paling tinggi, melainkan berapa yang sanggup ditangani petak Anda. Tambak semi-intensif dengan kepadatan sekitar 80 ekor per meter persegi masih mengandalkan pakan alami dalam porsi berarti. Plankton dan organisme renik menyumbang gizi, sehingga pakan buatan berperan melengkapi. Dalam kondisi itu, pakan berprotein lebih rendah seperti Fortuna pada 28 persen justru memberi hasil ekonomi lebih baik, karena protein berlebih tidak punya tempat untuk berubah menjadi daging dan hanya menambah beban air.
Sebaliknya, pada tambak intensif berlapis liner dengan kepadatan tinggi, pakan alami hampir tidak berperan. Seluruh gizi udang datang dari pakan buatan, dan di situlah kadar protein menjadi penentu langsung terhadap laju pertumbuhan. SGH dan SGH MAX pada protein 32 persen diarahkan untuk kondisi seperti ini, dengan SGH untuk sistem intensif dan super-intensif serta SGH MAX untuk fase grower di tambak berlapis liner. Pada fase transisi dari nursery, Super PL pada 40 persen menjawab kebutuhan paling tinggi dalam satu siklus.
Yang perlu dipastikan sebelum menaikkan kadar protein adalah kapasitas aerasi. Patokan praktis yang masuk akal adalah memeriksa oksigen terlarut menjelang subuh, bukan siang hari, karena di jam itulah titik terendahnya terjadi. Bila oksigen sudah sering menyentuh batas bawah pada kepadatan dan pakan yang sekarang, menaikkan protein akan memperburuk keadaan, bukan memperbaiki pertumbuhan. Urutan yang benar adalah memperbaiki aerasi lebih dulu, baru menaikkan gizi pakan.
Hal kedua yang menentukan adalah kemampuan mengganti dan mengelola air. Tambak dengan petak tandon berisi air siap pakai punya pilihan ketika kualitas air memburuk. Tanpa tandon, satu-satunya pilihan adalah mengurangi pakan dan menunggu, dan di fase pembesaran menunggu berarti kehilangan waktu yang tidak bisa dikejar. Petambak yang berencana memakai pakan berprotein tinggi sepanjang fase pembesaran sebaiknya memastikan dulu cadangan airnya tersedia.
Hal ketiga adalah pengendalian takaran lewat anco. Pakan berprotein tinggi memperbesar kerugian dari kelebihan takaran, karena yang terbuang bukan hanya pakan termahal melainkan juga bahan yang paling cepat mencemari. Memeriksa anco pada waktu kontrol yang tetap, lalu menahan diri menambah porsi selama masih ada sisa, adalah kebiasaan yang nilainya meningkat justru ketika pakan yang dipakai semakin mahal.
Lalu bagaimana dengan merek lain di pasaran. Di luar STP, Grobest mencantumkan rangkaian Ecobest untuk fase pembesaran dengan varian 3S pada minimal 32 persen serta 3M dan 3L pada minimal 36 persen, mencakup rentang bobot udang 3 sampai 30 gram. Merek besar lain seperti CP Prima, Skretting, dan Matahari Sakti beredar luas tetapi tidak mencantumkan kandungan proteinnya di kanal resmi, sehingga angkanya perlu diminta langsung ke distributor sebelum dipakai dalam perhitungan sistem tambak Anda.
Perlu juga diingat bahwa musim ikut mengubah hitungan ini. Pada musim hujan, suhu air turun dan nafsu makan udang ikut menurun, sementara langit mendung menekan fotosintesis plankton sehingga pasokan oksigen siang hari berkurang. Dalam kondisi itu, pakan berprotein tinggi yang diberikan dalam porsi normal lebih banyak berakhir di dasar daripada di tubuh udang. Menurunkan ransum sementara lebih bijak daripada mempertahankannya demi mengejar target pertumbuhan.
Cara paling murah memastikan semua pertimbangan ini tidak berhenti sebagai teori adalah mencatat. Catatan harian berisi kepadatan tebar, jam operasi kincir, oksigen terlarut menjelang subuh, jumlah pakan beserta kadar proteinnya, dan waktu habis pakan di anco akan memperlihatkan pola yang tidak terbaca dari ingatan. Setelah satu siklus penuh, biasanya terlihat jelas pada kadar protein berapa petak Anda bekerja paling efisien, dan angka itu jauh lebih berguna daripada patokan umum dari tambak orang lain.
Kesimpulannya, memilih merek pakan udang berprotein tinggi sebaiknya dimulai dari membaca kemampuan tambak sendiri, bukan dari membaca daftar merek. Kepadatan tebar, kapasitas aerasi, ketersediaan air cadangan, dan disiplin pengendalian takaran menentukan kadar protein berapa yang benar-benar bisa Anda manfaatkan. Dasar pengelolaan yang menopang keputusan ini bisa ditelusuri lewat panduan budidaya udang vaname. Sebelum menaikkan kadar protein pada siklus berikutnya, hitung dulu kepadatan tebar dan kapasitas aerasi petak Anda, karena menaikkan gizi pakan di atas kemampuan tambak menanganinya hampir selalu berakhir sebagai biaya, bukan sebagai bobot panen.