Dalam beberapa dekade terakhir, dunia usaha semakin disorot terkait kontribusinya terhadap krisis iklim. Tidak cukup hanya menciptakan produk dan meraih keuntungan, perusahaan kini dituntut untuk menjalankan bisnis secara bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Salah satu langkah nyata dalam arah ini adalah pemanfaatan energi terbarukan sebagai bagian dari praktik keberlanjutan perusahaan.
Energi terbarukan bukan hanya sekadar tren global, tetapi telah menjadi indikator penting dalam menilai keseriusan perusahaan terhadap komitmen keberlanjutan. Artikel ini akan mengulas bagaimana energi terbarukan diterapkan dalam praktik perusahaan dan mengapa hal ini menjadi krusial di era modern.
Apa Itu Energi Terbarukan?
Energi terbarukan adalah sumber energi yang berasal dari proses alam yang dapat diperbarui secara terus-menerus. Sumber-sumber ini meliputi:
- Matahari (solar)
- Angin (wind)
- Air (hydro)
- Panas bumi (geothermal)
- Biomassa
Berbeda dengan energi fosil seperti batu bara dan minyak bumi yang terbatas dan menghasilkan emisi karbon tinggi, energi terbarukan lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk jangka panjang.
Mengapa Energi Terbarukan Penting bagi Perusahaan?
Pemanfaatan energi bersih dalam operasional perusahaan bukan hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga memberikan berbagai keuntungan strategis, antara lain:
1. Mengurangi Emisi Karbon
Transisi ke energi terbarukan membantu perusahaan mengurangi jejak karbonnya. Hal ini penting mengingat tekanan global untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca semakin besar.
2. Efisiensi Biaya dalam Jangka Panjang
Meski investasi awal untuk sistem energi terbarukan cenderung tinggi, dalam jangka panjang biaya operasionalnya lebih rendah. Perusahaan dapat menghemat tagihan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang fluktuatif.
3. Meningkatkan Citra dan Reputasi Merek
Konsumen kini lebih peduli terhadap keberlanjutan. Perusahaan yang menunjukkan komitmen nyata terhadap lingkungan lebih mudah menarik loyalitas pelanggan dan mendapatkan kepercayaan publik.
4. Akses ke Pendanaan Hijau
Banyak investor dan lembaga keuangan lebih tertarik menyalurkan modal ke perusahaan yang menerapkan praktik ramah lingkungan. Penggunaan energi terbarukan bisa menjadi nilai tambah dalam laporan keberlanjutan.
Bagaimana Energi Terbarukan Diterapkan dalam Praktik Perusahaan
Penggunaan energi terbarukan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, tergantung skala dan sektor industri masing-masing perusahaan. Berikut adalah beberapa implementasi nyata:
1. Pemasangan Panel Surya di Gedung Operasional
Banyak perusahaan, terutama di sektor manufaktur, mulai memasang panel surya di atap pabrik atau kantor pusat mereka. Teknologi solar photovoltaic (PV) digunakan untuk menghasilkan listrik yang dapat langsung dimanfaatkan untuk operasional harian.
2. Menggunakan Listrik dari Pemasok Energi Hijau
Jika perusahaan tidak dapat menghasilkan energi sendiri, mereka dapat membeli listrik dari pemasok energi terbarukan melalui program green electricity. Di beberapa negara, termasuk Indonesia, opsi ini sudah mulai tersedia melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN).
3. Pemanfaatan Limbah Organik sebagai Biomassa
Perusahaan di sektor agribisnis atau makanan dan minuman dapat memanfaatkan limbah organik dari proses produksi sebagai bahan bakar biomassa. Ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menghasilkan energi.
4. Konversi Sistem Pendingin dan Pemanas
Teknologi energi terbarukan juga digunakan dalam sistem HVAC (heating, ventilation, and air conditioning). Misalnya, penggunaan pompa panas berbasis geothermal untuk menggantikan sistem pendingin konvensional.
5. Penyediaan Kendaraan Listrik
Beberapa perusahaan multinasional sudah mulai mengganti kendaraan operasional mereka dengan kendaraan listrik, serta menyediakan stasiun pengisian daya berbasis energi matahari di area parkir.
Studi Kasus Singkat: Inisiatif Energi Terbarukan oleh Perusahaan Terkemuka
Google telah berhasil mengoperasikan semua pusat datanya dengan energi terbarukan sejak 2017. Mereka juga berinvestasi dalam proyek angin dan surya di berbagai belahan dunia untuk memastikan rantai pasok energi yang berkelanjutan.
Unilever
Unilever menerapkan target untuk mencapai 100% penggunaan energi terbarukan di seluruh operasional global mereka. Mereka memanfaatkan tenaga angin dan biomassa dalam fasilitas produksi.
Pertamina (Indonesia)
Melalui sub-holding Pertamina New & Renewable Energy, perusahaan energi milik negara ini gencar mengembangkan proyek-proyek geothermal dan bioenergi untuk mendukung transisi energi nasional.
Tantangan dalam Implementasi Energi Terbarukan
Meski potensinya besar, penerapan energi terbarukan dalam perusahaan tidak lepas dari tantangan:
1. Investasi Awal yang Tinggi
Pemasangan panel surya atau pembangunan instalasi biomassa membutuhkan dana yang besar di awal. Tidak semua perusahaan, khususnya UMKM, mampu menjangkaunya.
2. Keterbatasan Infrastruktur
Di beberapa wilayah, infrastruktur pendukung untuk energi terbarukan masih minim. Misalnya, jaringan listrik belum siap menerima distribusi dari pembangkit mandiri.
3. Kurangnya SDM Ahli
Transformasi ke sistem energi baru membutuhkan sumber daya manusia yang terlatih. Banyak perusahaan masih mengalami kekurangan teknisi dan insinyur yang memahami teknologi hijau.
Langkah Strategis untuk Mendorong Energi Terbarukan di Perusahaan
Untuk menyukseskan integrasi energi terbarukan dalam operasional, perusahaan dapat mengambil langkah berikut:
- Audit Energi
Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsumsi energi saat ini untuk mengetahui potensi efisiensi dan transisi ke sumber terbarukan. - Tentukan Target dan Timeline
Tetapkan target penggunaan energi bersih yang jelas dan realistis dalam strategi keberlanjutan jangka panjang. - Libatkan Pihak Ketiga
Kerjasama dengan vendor teknologi energi terbarukan dan lembaga pendanaan bisa mempercepat adopsi tanpa membebani anggaran perusahaan secara langsung. - Edukasi Internal
Tingkatkan pemahaman karyawan melalui pelatihan dan kampanye internal tentang pentingnya energi terbarukan.
Energi terbarukan adalah fondasi penting dalam membangun praktik keberlanjutan yang nyata di dunia korporasi. Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbarui, perusahaan tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai bisnis jangka panjang.
Ke depan, integrasi energi hijau akan semakin menjadi tolok ukur reputasi, daya saing, dan ketahanan bisnis. Oleh karena itu, sudah saatnya perusahaan – baik besar maupun kecil – mulai mempertimbangkan transisi energi sebagai bagian dari strategi utama mereka untuk menghadapi tantangan global dan menciptakan dampak positif bagi bumi dan generasi mendatang.













