Dugaan Kekerasan Seksual, Mahasiswa Kritik Rektor Unsoed

Rully Wahyuni

rektor unsoed
Foto Rektor Unsoed, Akhmad Sodiq dalam sebuah pertemuan dengan Presiden Prabowo. Docs: ISTIMEWA

Infojatengpos.com – Gelombang kritik terhadap kepemimpinan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) ramai diperbincangkan di media sosial. Seorang mahasiswa bernama Aryanto melalui unggahan di Twitter secara terbuka meminta Rektor Unsoed, Akhmad Sodiq, dicopot dari jabatannya. Ia menilai pimpinan kampus gagal menangani persoalan serius, terutama dugaan pembiaran kasus kekerasan seksual yang melibatkan dosen terhadap mahasiswi.

Dalam pernyataannya, Aryanto menyoroti tidak adanya sanksi tegas terhadap dosen yang diduga melakukan kekerasan seksual. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi mahasiswa karena menimbulkan rasa takut dan ketidakamanan di lingkungan akademik.

“Saya mau cerita dari hal yang paling merugikan kita, yaitu tidak adanya hukuman bagi dosen yang melakukan kejahatan seksual pada mahasiswi,” tulis Aryanto.

Kekerasan Seksual Dinilai Dibiarkan Berlarut

Aryanto menegaskan bahwa dugaan kekerasan seksual di lingkungan kampus tidak boleh dibiarkan berlarut-larut hingga memunculkan korban yang lebih berat. Ia menyinggung kasus di Universitas Negeri Manado (Unima), yang disebutnya berujung pada bunuh diri korban bernama Evia Maria Mangolo setelah mengalami kekerasan seksual.

“Apakah kasus pelecehan seksual yang terjadi di kampus saya, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), juga harus ada korban yang bundir?” tulisnya.

Rektor Dinilai Tak Tegas, Aksi Mahasiswa Disebut Tak Berbuah Hasil

Dalam cuitannya, Aryanto turut mengungkap dugaan pelecehan seksual yang disebut dilakukan oleh seorang profesor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Adhi Iman Sulaiman. Ia memaparkan kronologi dugaan kejadian yang disebut terjadi saat kegiatan penelitian ke luar kota dan melibatkan mahasiswi berinisial “Bunga”.

Ia menyebutkan, setelah laporan mencuat, kasus tersebut sempat menjadi perhatian publik setelah diviralkan mahasiswa. Serangkaian aksi demonstrasi oleh BEM dan mahasiswa dikatakan berlangsung sejak Juli hingga September, sementara dugaan kejadian terjadi pada April.

Namun, Aryanto menilai gelombang tekanan tersebut tidak membuahkan hasil nyata.

“Tekanan demonstrasi yang digagas BEM dan mahasiswa tidak berdampak apa pun. Menyedihkan sekali!!” tulisnya.

Dugaan Kampus Melindungi Dosen Bermasalah

Aryanto mempertanyakan sikap kampus yang dinilainya tetap mempertahankan dosen bermasalah. Ia mengkritik sanksi administratif berupa skorsing mengajar selama dua semester yang dianggap tidak menyelesaikan masalah dan membuka peluang dosen kembali mengajar di kemudian hari.

“Apakah mahasiswa lain kelak akan terima jika diajar dosen bermasalah? Pastinya tidak, lalu mengapa dibiarkan tetap mengajar?” tulisnya.

Ia juga mengklaim bahwa dugaan kekerasan seksual di Unsoed tidak hanya terjadi satu kali. Dalam unggahannya, Aryanto menyebut nama dosen Fakultas Ekonomi, Muhammad Syah Fibrika Ramadhan, yang dituding sebagai predator terhadap mahasiswa bimbingannya. Namun, ia menilai kasus tersebut justru ditutup-tutupi oleh pihak kampus.

“Kami semakin bertanya-tanya, mengapa kampus lebih memilih mempertahankan dosen bejat ketimbang membela hak mahasiswa yang berani melapor,” tulisnya.

Krisis Kepemimpinan Jelang Pemilihan Rektor

Menurut Aryanto, krisis kepemimpinan di Unsoed semakin menguat menjelang berakhirnya masa jabatan Rektor Akhmad Sodiq dan masuknya kampus ke tahapan pemilihan rektor baru. Namun ia meragukan adanya perubahan signifikan, karena kandidat yang muncul disebut masih berada dalam lingkaran kekuasaan petahana.

Ia menyebut tiga nama calon rektor, yakni Ali Rohman, Adi Indrayanto, dan Khavid Faozi, yang menurutnya merupakan bagian dari upaya mempertahankan kendali kekuasaan.

Bawa Nama Besar Soedirman, Mahasiswa Desak Pemerintah Bertindak

Aryanto menegaskan bahwa Unsoed merupakan perguruan tinggi negeri yang membawa nama besar Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ia menilai citra tersebut tidak boleh tercoreng oleh perilaku yang dianggap merusak nilai-nilai pendidikan.

“Unsoed kampus tempat saya kuliah ini punya nama hebat Panglima Besar Soedirman. Jangan sampai dihinakan segelintir penjahat berprofesi dosen,” tulisnya.

Ia juga mendesak Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, untuk mengambil langkah tegas serta membangun mekanisme yang jelas agar dosen yang diduga predator tidak hanya dijatuhi sanksi administratif semata.

Artikel Terkait

Tags

Artikel Terbaru