Asal usul Kota Semarang bermula dari kisah seorang penyebar agama Islam bernama Ki Ageng Pandan Arang yang menemukan pohon asam yang tumbuh jarang-jarang di sebuah kawasan yang kini menjadi pusat kota. Dari situlah nama “Semarang” lahir, gabungan kata asem (asam) dan arang (jarang), yang lambat laun menjadi identitas sebuah kota yang berkembang jadi salah satu kota pelabuhan terpenting di Jawa.
Buat kamu yang penasaran kenapa Semarang punya nama unik seperti itu, atau ingin tahu kapan tepatnya kota ini berdiri secara resmi, sejarahnya ternyata cukup panjang dan melibatkan banyak babak penting, mulai dari era penyebaran Islam, masa Kerajaan Mataram, sampai kedatangan VOC yang mengubah wajah kota ini selamanya. Artikel ini merangkum garis waktu asal usul Semarang dari awal mula sampai perkembangannya hingga sekarang.
Legenda asal nama Semarang dari pohon asem arang
Menurut sejarah semarang yang banyak beredar di catatan lokal, nama kota ini berasal dari fenomena alam berupa pohon asam yang tumbuh dengan jarak yang jarang-jarang di suatu kawasan hutan. Dalam bahasa Jawa, kondisi ini disebut “asem arang”, yang lama-kelamaan melebur jadi satu kata dan menjadi “Semarang”.
Kisah ini erat kaitannya dengan sosok Ki Ageng Pandan Arang, seorang utusan Kesultanan Demak yang dikirim untuk berdakwah di kawasan Bukit Bergota pada akhir abad ke-15. Ia dikenal sebagai tokoh yang menetap di kawasan yang banyak ditumbuhi pohon asam jarang tersebut, sehingga penduduk sekitar mulai menyebut wilayah itu dengan nama yang sama dengan ciri khas alamnya.
Peran Ki Ageng Pandanaran dalam sejarah semarang
Ki Ageng Pandan Arang, yang juga dikenal sebagai Pandanaran I, berperan besar sebagai penyebar Islam sekaligus peletak dasar pemerintahan di kawasan Semarang. Setelah wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh keturunannya, Pandan Arang II, yang kemudian diangkat menjadi bupati Semarang menyusul wafatnya Sultan Trenggono dari Demak pada 1546.
Di bawah kepemimpinan Pandan Arang II, wilayah Semarang menunjukkan pertumbuhan yang pesat dari sisi jumlah penduduk maupun aktivitas ekonomi. Perkembangan inilah yang menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang, sehingga muncul pertimbangan untuk menaikkan status wilayah Semarang menjadi setingkat kabupaten.
Penetapan hari jadi kota semarang 2 Mei 1547
Hari jadi Kota Semarang diperingati setiap tanggal 2 Mei, merujuk pada tahun 1547. Menurut catatan Babad Nagri Semarang, tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan pengangkatan resmi Pandan Arang II sebagai bupati Semarang, yang disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga.
Penetapan tanggal 2 Mei 1547 sendiri bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yakni 12 Rabiul Awal tahun 954 Hijriah. Dasar penetapan ini dipakai karena syarat peningkatan status daerah dari desa menjadi kabupaten dianggap sudah terpenuhi pada masa itu, sehingga hari jadi kota semarang bukan sekadar tanggal simbolis, tapi merujuk pada peristiwa administratif yang tercatat dalam babad.
Garis waktu era Mataram, VOC, sampai sekarang
Setelah era Pandanaran, Semarang sempat berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram Islam. Titik balik penting terjadi pada 1678, ketika Sultan Amangkurat II menandatangani perjanjian dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) sebagai imbalan atas bantuan VOC menumpas pemberontakan Trunojoyo dari Madura. Lewat perjanjian ini, VOC mendapat izin mendirikan benteng di tepi Kali Semarang, yang kemudian dikenal sebagai Benteng Vijfhoek dan menjadi cikal bakal kawasan Kota Lama Semarang.
Memasuki awal abad ke-18, kawasan ini berkembang jadi pusat pemerintahan dan perdagangan kolonial yang dihuni komunitas multietnis, mulai dari Belanda, Tionghoa, Arab, Melayu, hingga Jawa. Pada 1708, VOC bahkan memindahkan pusat administrasinya dari Jepara ke Semarang, menandai era baru sebagai kota dagang yang makin ramai. Seiring waktu, kota berkembang ke arah selatan menuju kawasan Bodjong (sekarang Jalan Pemuda), sementara Kota Lama perlahan ditinggalkan hingga kini direvitalisasi jadi kawasan wisata sejarah yang menyimpan jejak arsitektur kolonial.
Baca juga:
Semarang sebagai kota modern hari ini
Dari kota kecil yang lahir dari kisah pohon asam jarang, Semarang tumbuh menjadi ibu kota Provinsi Jawa Tengah sekaligus salah satu kota metropolitan terbesar di Pulau Jawa. Jejak sejarahnya masih bisa kamu telusuri lewat berbagai bangunan cagar budaya, terutama di kawasan Kota Lama yang kini jadi destinasi wisata favorit.
Kalau kamu ingin menelusuri lebih jauh jejak sejarah kota ini secara langsung, kamu bisa mengunjungi berbagai museum di Semarang yang menyimpan koleksi dan catatan seputar perjalanan panjang kota ini, mulai dari masa kerajaan sampai era kolonial.
FAQ
Dari mana asal nama Semarang?
Nama Semarang berasal dari kata “asem arang” dalam bahasa Jawa, merujuk pada pohon asam yang tumbuh jarang-jarang di kawasan yang ditemukan Ki Ageng Pandan Arang. Lama-kelamaan sebutan ini melebur menjadi satu kata, Semarang.
Bagaimana peran Ki Ageng Pandanaran dalam sejarah Semarang?
Ki Ageng Pandan Arang adalah tokoh yang menyebarkan Islam di Bukit Bergota dan meletakkan dasar pemerintahan awal Semarang. Keturunannya, Pandan Arang II, kemudian diangkat sebagai bupati pertama Semarang.
Kapan hari jadi Kota Semarang diperingati?
Hari jadi Kota Semarang diperingati setiap tanggal 2 Mei, merujuk pada penetapan tahun 1547 saat Pandan Arang II disahkan sebagai bupati oleh Sultan Hadiwijaya.
Apa peran VOC dalam sejarah Semarang?
VOC masuk ke Semarang lewat perjanjian tahun 1678 dengan Sultan Amangkurat II dari Mataram. VOC lalu mendirikan Benteng Vijfhoek yang menjadi cikal bakal kawasan Kota Lama Semarang.
Apa itu Kota Lama Semarang?
Kota Lama Semarang adalah kawasan bekas pusat pemerintahan dan perdagangan kolonial Belanda yang dibangun di sekitar benteng VOC. Kawasan ini kini menjadi destinasi wisata sejarah dengan arsitektur bergaya Eropa klasik.
Asal usul Semarang menunjukkan bagaimana sebuah kota bisa lahir dari kisah sederhana tentang pohon asam yang tumbuh jarang, lalu berkembang lewat peran tokoh agama, keputusan politik kerajaan, hingga campur tangan kekuatan kolonial. Memahami sejarah semarang ini bukan cuma soal mengenang masa lalu, tapi juga cara mengapresiasi kota yang terus berkembang sampai hari ini.













